PENGORGANISASIAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

PENGORGANISASIAN DALAM
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM



OLEH:

MIFTACHUL MA’AYIS

N.I.M : 93111388
N.I.M.K.O : 93.4.58.0101.00294
SEMESTER : VI


SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
STIT
MASKUMAMBANG GRESIK



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. semata yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “PENGORGANISASIAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM”
Penulis menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna dan juga ada kelemahan, kekurangan serta kesalahan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran-saran dan bimbingan untuk melakukan perbaikan. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis hususnya dan umumnya bagi para pembaca.


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN


A.LATAR BELAKANG

Seseorang yang mempunyai lima buah pohon jeruk, mungkin untuk memelihara, memetik serta menjual hasil kebunnya tersebut dapatlah ditangani sendiri. Sehingga dalam hal ini kemungkinan orang tersebut belum memerlukan bantuan orang lain yang mau diajak untuk bekerja sama. Namun apabila jumlah pohon jeruknya berkembang menjadi lebih banyak, katakanlah mencapai 200 pohon, maka ia tidak dapat melaksanakan tugas memelihara, memetik maupun menjual hasilnya sendirian. Untuk itu kemungkinan orang tersebut akan meminta bantuan orang lain (misal istri dan anak-anaknya) guna mengelolah pohon jeruknya. Dalam keadaan yang demikian pengorganisasian dirasa perlu diterapkannya meskipun baru dalam tarap organisasi yang sangat sederhana. Demikian pula makin hari makin berkembang pula pohon jeruknya tersebut, bahkan mencapai ribuan pohon, maka bantuan istri dan anaknya dirasa tidak dapat mencukupi, sehingga pemilik kebun jeruk tersebut berusaha mencari bantuan orang lain (selain keluarganya) untuk turut serta mengelola kebun jeruknya. Mereka inilah yang kemudian dalam istilah sehari harinya disebut sebagai karyawan-nya. Sehingga semakin banyak karyawan/pegawai/buruhnya dari perusahaan tersebut, serta mengingat semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi maka ilmu pengorganisasian semakin diperlukan.
Begitu pula dalam suatu lembaga di bidang pendidikan yang sangat kompleks dengan permasalahan, dari bagaimana mencari peserta didik, mengelola kelas, mengajar yang baik sampai menggaji seorang guru. Semua itu butuh diadakan sebuah pengorganisasian yang matang, apalagi dalam Lembaga Pendidikan Islam, sangat diperlukan sekali adanya pengorganisasian.
Maka dari itu perlu kiranya kami menulis sebuah makalah yang berjudul “ PENGORGANISASIAN DALAM LPI (LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM).



BAB II
PEMBAHASAN


B.PENGERTIAN ORGANISASI


Pengorganisasian berasal dari kata dasar organisasi (organum bahasa Latin) yang berarti alat atau badan, mempunyai beberapa versi devinisi. Tanpa mempermasalahkan ataupun mendevinisikan apa itu organisasi, pada dasarnya ada 3 (tiga) ciri husus dari organisasi, yaitu : adanya sekelompok manusia – kerja sama yang harmonis dan kerjasama tersebut berdasar atas hak, kewajiban serta tanggung jawab masing-masing orang untuk mencapai tujuan.
Dari uraian di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa “organisasi” adalah :
Sekelompok manusia yang bekerjasama, di mana kerjasama tersebut di canangkan dalam bentuk struktur organisasi atau gambaran skematis tentang hubungan kerja, dalam ranka mencapai suatu tujuan tertentu.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa “pengorganisasian” adalah suatu usaha yang ditempuh, agar sekelompok manusia yang bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, dapat berjalan atau berhasil dengan baik sesuai tujuan semula.

Tentang organisasi oleh beberapa ahli antara lain :
James D. Money
Organisasi adalah bentuk dari perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Dokter Kimbal
Organisasi adalah sebuah active atau cara kerja (mekanisme) dari menejemen. Tujuan mengadakan pengontrakan dan personalianya serta menentukan fungsi masing-masing tata kerjanya.
Ralph Currier Davis
Organisasi adalah kelompok orang-orang yang bekerja menuju ke tujuan bersama dibawah pimpinan.
Ermaet Dalk
Organisasi adalah proses peremcanaan dalam sebuah badan usaha. Sifat; menyusun, mengembangkan dan pemeliharaan struktur atau pola hubungan kerja.
John D. Millet
Organisasi adalah sebuah kerangka struktur, sebagai wahana dan wadah pelaksanaan pekerjaan banyak orang untuk mencapai suatu tujuan bersama.
John Prisce Johnes
Organisasi adalah kelompok manusia bekerja yang dipersatukan di bawah sebuah pimpinan dan dengan sarana yang serasi demi mecapai tujuan bersama.
Dwaight Waldo
Organisasi adalah struktur hubungan antar manusia berdasarkan wewenang dan kelanggengan dalam sebuah system administrasi.
Edgar Segein
Organisasi adalah kordinasi yang rasional dari aktiva banyak orang dengan pembagian kerja, fungsi, wewenang dan tangung jawab demi mencapai tujuan bersama.
Harley Trecker
Organisasi adalah tindakan atau proses perhimpunan dan kelompok-kelompok yang ada hubungannya atau sama lain dalam sebuah wadah atau hubungan.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian organisasi tersebut maka dapat disimpulkan adanya tiga macam pendapat yaitu:
Organisasi adalah kumpulan orang-orang.
Organisasi adalah proses pembagian kerja.
Organisasi adalah system kerja sama.
Dari tiga macam pedapat diatas maka dapat disusun suatu definisi tentang organisasi secara sederhana, yaitu:
“Organisasi adalah suatu system kerjasama dari sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. J. Djati, S. John (1998 : 44).

C.PROSES PENGORGANISASIAN

Ernes Dale (Stoner, 1986) memberikan pengorganisasian sebagai sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses pengorganisasian itu digambarkan sebagai berikut:
1.Tahap pertama yang harus di lakukan dalam merinci pekerjaan adalah menentukan tugas-tagas apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.
2.Tahap kedua membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perorang atau perkelompok. Disini perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang akan diserahi tugas harus didasarkan pada kaulifikasi, tidak dibebani terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan.
3.Tahap ketiga menggabungkan pekerjaan para angauta dengan cara yang rasional, dan efisien. Pengelompokan tugas yang saling berkaitan, jika organisasi sudah membesar atau kompleks. Penyatuan kerja ini biasanya disebut depertementalisasi.
4.Tahap keempat menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis. Pada saat setiap orang dan setiap bagian melaksanakan pekerjaan/aktivitas, kemungkinan timbul konflik diantara anggauta, dan mekanisme pengkoordinasian memungkinkan setiap anggauta organisasi untuk tetap bekerja efektif.
5.Tahap kelima melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas. Karena pengorganisasian merupakan suatu proses yang berkelanjutan, diperlukan penelitian ulang terhadap keempat langkah sebelumnya secara terprogram/berkala, untuk menjamin konsistensi, efektif, dan efisien dalam memenuhi kebutuhan.

D.STUKTUR ORGANISASI
Menurut E. Kast dan James E. Rosenzweig (1974) struktur diartikan sebagai pola hubungan komponen atau bagian suatu organisasi. Struktur merupakan system formal hubungan kerja yang membagi dan mengkordinasikan tugas orang dan kelompok agar tercapai tujuan. Menurut Simon (1958) struktur ini relative stabil, statis dan berubah lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-penyesuaian.
Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja, pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan dan bawahan, kelompok , komponen atau bagian , tingkat menejeman dan saluran komunikasi. Suatu struktur organisasi menspesifikasi pembagian kegiatan kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi atau kegiatan yang berbeda-bada itu dihubungkan.
Menurut Stoner, ( 1986) struktur organisasi dibangun oleh lima unsur, yaitu:
1.Spesialisasi aktivitas
Spesialisasi aktivitas mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok di seluruh organisasi atau pembagian kerja dan penyatuan tugas tersebut kedalam unit kerja.
2.Standar aktivitas
Standar aktivitas merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakgunaan (predictability) aktivitas.
3.Koordinasi aktivitas
Koordinasi aktivitas adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam organisasi.
4.Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan
Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan mengacu pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan. Sentralisasi adalah proses konsentrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkat atas suatu organisasi.
5.Ukuran unit kerja
Ukuran unit kerja, mengacu pada jumlah pegawai dalam suatu kelompok kerja.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian menyangkut penentuan pekerjaan, pembagian kerja, penetapan mekanisme untuk mengkoordinasikan kegiatan, salah satu hasil dari proses ini adalah STRUKTUR ORGANISASI yang merupakan prosedur formal menejemen organisasi. Struktur ini dibentuk sangat bergantung pada tujuan organisasi dan strategi yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan itu. F. Nanang (1996 : 73-74).

HUBUNGAN DALAM ORGANISASI

Hubungan dalam organisasi menunjukkan kaitan antara tanggung jawab, wewenang dan pelaporan atau akontabilitas. Akontabilitas adalah keharusan mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas yang mengacu pada sasaran yang ingin di capai oleh organisasi.
Bentuk- bentuk hubungan dalam organisasi pada umumnya dan organisasi pendidikan sangat banyak dan berfariasi, dalam organisasi sekolah yang benar. Hubungan-hungan itu secara garis besar mencakup aspek sasaran, fungsi atau perangkat tugas, tanggung jawab, wewenang, dan akontabilitasnya. Kesemuanya itu sering dipertanyakan dalam bentuk-bentuk hubungan apa dalam kontek organisasi sekolah, apakah hubungan garis, hubungan staf, hubungan konsultatif, hubungan koordinatif.
Hubungan garis adalah hubungan antar unsur dalam organisasi pendidikan yang menunjukkan garis perintah dari atas ke bawah atau vertikal. Misalnya dalam system pendidikan nasional, garis perintah dan menteri P dan K, ke Kakanwil P dan K, ke Kakandep Kodya/Kabupeten, ke Kakandep Kecamatan.
Hubungan staf yaitu hubungan antar unsur dalam organisasi pendidikan yang menunjukkan penugasan untuk membantu kegiatan unsur lain dalam bidang pekerjaan tertentu. Dalam struktur organisasi sering digambarkan dalam bentuk garis kesamping tetapi berada di bawah unsure yang di bantu. Dalam system pendidikan nasional, misalnya hubungan antara Inspektorat Jenderal, Balitbangdikbud, dan sekretaris Jenderal. Semuanya berada dibawah Mendikbud tetapi sejajar, dan bertugas membantu Mendikbud.
Hubungan konsultatif adalah hubungan antara unsur yang berada dalam organisasi dengan kedudukan setara. Hubungan ini digambarkan dalam bentuk garis putus-putus kesamping.
Hubungan koordinatif yaitu merupakan pola hubungan yang menunjukkan hubungan antara unit dalam organisasi bertujuan mensinkronkan, saling mendukung, supaya searah dan tidak tumpang tindih. Misalnya dalam bagian perencanaan terdapat sub-sub bagian seperti: subag pengumpulan data dan pengolahan data, subag penyusunan rencana dan program, subag monitoring, dan subag penerangan. Semuanya harus melakukan hubungan koordinasi dalam melaksanakan perencanaan. Contoh lain, hubungan koordinasi antara bidang, pendidikan dasar, pendidikan kejuruan, pendidikan menengah umum dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan secara formal.



BAGAN Hubungan Organisasi



F.ASAS-ASAS ORGANISASI

Asas-asas organisasi adalah berbagai pedoman yang sejauh mungkin hendaknya dilaksanakan agar diperoleh struktur organisasi yang baik dan aktivitas organisasi dapat berjalan lancar.
Dari definisi tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa asas-asas organisasi berperan dalam dua macam;
1.Pedoman untuk membentuk struktur organisasi yang sehat dan efisien.
2.Pedoman untuk melakukan kegiatan organisasi agar dapat berjalan dengan lancar.

Adapun urutan asas-asas organisasi adalah sebagai berikut:
1.Perumusan Tujuan Dengan Jelas
Rumusan tujuan dengan jelas memudahkan penetapan haluan organisasi, pemilihan bentuk, pembentukan struktur, kebutuhan pejabat, penyumbangan pengalaman, kecakapan daya kreasi dari para anggauta organisasi.
MC, GREGOR, : mengemukakan tentang tujuan yang jelas adalah;
Tujuan yang efektif menambah semangat semua anggauta untuk bekerja kearah tujuan yang sama.
Tujuan yang jelas memberikan tongkat pengukur yang obyektif untuk mengukur, membanding dan menilai pelaksanaan.
Setiap orang yang masuk ke dalam organisasi biasanya telah memiliki konsep tujuan individu, konsep tujuan organisasidan organisasi sendiri telah mempunyai konsep tujuan organisasinya.
2.Departemenisasi
Departemenisasi merupakan asas pembentukan satuan organisasi yang akan diserahi beban kerja tertentu. Jadi departemenisasi adalah:
“Aktivitas untuk menyusun satuan-satuan (unit-unit) organisasi yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi yang ada”.
Dalam pembentukan satuan organisasi yang harus diperhatikan adalah:
Jumlah satuan organisasi hendaknya sedikit mungkin.
Satuan organisasi dibentuk harus berfungsi bulat.
Perluasanaktivitas pada tahap pertama harus ditampung lebih dahulu oleh satuan yang ada sehinggga tidak tergesa-gesa membentuk satuan yang baru.
Bila satuan/suatu aktivitas telah ada maka organisasi yang menampungnya jangan membentuk satuan kembarnya.
Pembentukan satuan organisasi perlu dilakukan penertiban pemalaian sebutan satuan organisasi yang tepat sehingga dapat diketahui fungsi dari persatuan yang bersangkutan.
3.Pembagian kerja
Asas ini dapat dikaitkan dengan pejabat yang harus menempatinya atau dengan satuan organisasinya. Maka asas pembagian kerja dapat diartikan dua macam, yaitu:
Pertama, perincian serta pengelompokan aktivitas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain untuk dilakukan oleh satuan organisasi tertentu.
Kedua, perincian serta pengelompokan aktivitas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain untuk dilakukan oleh pejabat tertentu.

Macam-macam dasar pembagian kerja antara lain:
Berdasarkan fungsi tertentu.
Berdasarkan hasil produksi.
Berdasarkan rangkaian kerja.
Berdasarkan langganan.
Berdasarkan jasa.
Berdasarkan alat.
Berdasarkan wilayah.
Berdasarkan waktu.
Berdasarkan jumlah.
4.Koordinasi
Koordinasi adalah Suatu asas yang menyatakan bahwa dalam suatu organisasi harus ada keselarasan aktifitas di antara satuan-satuan organisasi atau keselarasan diantara pejabatnya, asas umum dalam suatu organisasi, dan asas pokok dari suatu organisasi.
5.Pelimpahan wewenang.
Pelimpahan adalah penyerahan.
Wewenang adalah hak seorang pejabat untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas dan tanggung jawab dapat dilaksanakan dengan baik.
6.Rentangan control.
Rentangan control adalah: “Jumlah terbanyak bawahan langsung yang dapat dipimpin dengan baik oleh seorang atasan”. Sedang bawahan langsung merupakan sejumlah pejabat yang langsung berkedudukan dibawah seorang atasan tertentu.
7.Jenjang organisasi
Jenjang organisasi adalah : “Tingkat-tingkat satuan organisasi yang di dalamnya terdapat pejabat, tugas serta wewenang tertentu menurut kedudukannya dari atas sampai dengan bawah dalam suatu fungsi tertentu”.
8.Kesatuan perintah
Kesatuan perintah berarti bahwa tiap-tiap pejabat dalam organisasi hendaknya hanya dapat diperintah dan bertanggung jawab kepada seorang atasan tertentu.
Tidak ada kesatuan perintah akan menimbulkan kebingungan, keraguan dari para bawahan.
9.Fleksibilitas
Struktur organisasi harus sudah diubah untuk disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa menguangi kelancaran aktivitas yang sedang berjalan.

G.MACAM-MACAM BENTUK ORGANISASI
Dalam pelaksanaan pengorganisasian, dikenal adanya bermacam bentuk organisasi atau lebih tepatnya struktur organisasi, di antarnya adalah:


1.Organisasi garis
Bentuk organisasi garis ini pertama kali muncul di kalangan militer, sehingga sering disebut sebagai bentuk organisasi militer, dan merupakan bentuk organisasi yang paling tua. Bentuk ini diciptakan oleh Henry Fayol, disamping itu bentuk organisasi garis merupakan bentuk organisasi yang paling sederhana.
2.Organisasi Fungsional
Dalam prakteknya, struktur organisasi fungsional ini kadang-kadang menimbulkan ketidak jelasan dalam pemberian perintah dari atasan kepada bawahan.Hal ini disebabkan kerena setiap atasan mempunyai wewenang untuk memberikan perintah kepada setiap bawahan yang ada, sepanjang perintah tersebut masih ada hubungannya dengan fungsi yang dimiliki atasan.
3.Organisasi Garis Dan Staf
Bila suatu organisasi itu masih ralatif kecil, artinya belum banyak permasalahan yang dihadapi dan segera harus diatasi, maka bentuk struktur organisasi yang sederhana (organisasi garis) dapat untuk mengatasinya.Namun apabila organisasi tersebut berkembang semakin luas, mungkin akan timbul berbagai kesulitan bagi seorang pimpinan dalam mengambil suatu keputusan (decision making), sehingga pimpinan tersebut merasa perlu untuk minta bantuan kepada orang lain yang dianggap mampu dan ahli. Oleh sebab itu, dibentuklah suatu “staf penasehat” yang merupakan kumpulan orang-orang yang ahli dalam bidang-bidang tertentu.Adapun tugas dari staf tersebut adalah membantu pimpinan dalam pengambilan keputusan.
4.Organisasi Gabungan
Bentuk organisasi gabungan ini pada dasarnya merupakan bentuk dari kombinasi struktur organisasi yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga bentuk sruktur organisasinya dapat berupa gabungan dari bentuk organisasi garis dan staf, garis dan fungsional, fungsional dan staf atau kombinasi dari ketiga bentuk organisasi tersebut. Sehingga bentuk struktur organisasi gabungan ini akan mempunyai kebaikan serta kelemahannya mengikuti kebaikan maupun kelemahan organisasi yang dibentuknya dalam rangka penggabungan tersebut.
5.Organisasi Matriks
Bentuk struktur organisasi matrik pertama kali muncul pada sebuah perusahaan industri ruang angkasa, yang mempunyai banyak departemen di mana masing-masing departemen dipegang oleh para spesialis (tim ahli) guna mencapai tujuan perusahaan secara khusus. Dewasa ini, struktur organisasi matriks sering diterapkan pada suatu pekerjaan yang merupakan proyek-proyek besar.

6.Organisasi Supervisi
Di Amerika Serikat terdapat bervariasi bentuk organisasi supervisi. Hal ini disebabkan antara lain kerena terdapat pertumbuhan sekolah-sekolah secara pesat dengan angka problema yang diadministrir. Pertumbuhan sekolah menambah jumlah lembaga supervise dengan variasi tugas para supervisor. Kondisi-kondisi seperti besarnya sekolah, jumlah pelaksana supervisi beserta pendidikan dan pengalaman orang-orang yang di supervise menyebabkan perbedaan organisasi supervise.
Fred C. Ayer & A. S. Barr, mengemukakan tiga bentuk Organisasi Supervisi. Di antaranya adalah:
1.Bentuk organisasi Extrisic-dualistic.
2.Bentuk organisasi Line and Staff.
3.Bentuk organisasi coordinate. Soetopo Hendiyat (1982:72)


BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN

1.Pengorganisasian adalah suatu usaha yang ditempuh, agar sekelompok manusia yang bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, dapat berjalan atau berhasil dengan baik sesuai tujuan semula.
2.Proses pengorganisasian itu digambarkan sebagai berikut:
Tahap pertama yang harus di lakukan dalam merinci pekerjaan
Tahap kedua membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perorang atau perkelompok.
Tahap ketiga menggabungkan pekerjaan para angauta dengan cara yang rasional, dan efisien.
Tahap keempat menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis
Tahap kelima melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas.
3.Pengorganisasian menyangkut penentuan pekerjaan, pembagian kerja, penetapan mekanisme untuk mengkoordinasikan kegiatan, salah satu hasil dari proses ini adalah Struktur Organisasi yang merupakan prosedur formal menejemen organisasi.
4.Hubungan dalam organisasi menunjukkan kaitan antara tanggung jawab, wewenang dan pelaporan atau akontabilitas. Bentuk- bentuk hubungan dalam organisasi pada umumnya dan organisasi pendidikan sangat banyak dan berfariasi, dalam organisasi sekolah yang benar. Hubungan-hubungan itu secara garis besar mencakup aspek sasaran, fungsi atau perangkat tugas, tanggung jawab, wewenang, dan akontabilitasnya. Kesemuanya itu sering dipertanyakan dalam bentuk-bentuk hubungan apa dalam kontek organisasi sekolah, apakah hubungan garis, hubungan staf, hubungan konsultatif, hubungan koordinatif.
5.Asas-asas organisasi adalah berbagai pedoman yang sejauh mungkin hendaknya dilaksanakan agar diperoleh struktur organisasi yang baik dan aktivitas organisasi dapat berjalan lancar. Adapun urutan asas-asas organisasi adalah sebagai berikut:
Perumusan tujuan tengan jelas
Departemenisasi
Pembagian kerja
Koordinasi
Pelimpahan wewenang
Rentangan control.
Jenjang organisasi
Kesatuan perintah
Fleksibilitas
6.Macam-macam bentuk organisasi
Organisasi garis
Organisasi Fungsional
Organisasi Garis Dan Staf
Organisasi Gabungan
Organisasi Matriks
Organisasi Supervisi


DAFTAR PUSTAKA

1.Fattah, Nanang, Drs. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
2.Julitriyarsa, Djati, Drs. & Suprihanto, John, Drs. 1988. Manajemen Umum. Yogyakarta: BPFE.
3.Soetopo, Hendiyat, Drs. & Soemanto, Wasty, Drs. 1982. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Malang : Bina Aksara.
0 Responses
abcs